ICW: Korupsi dan Dinasti Politik Seperti Lingkaran Setan

4e079b2a-f750-4eab-b584-7c230e51fde1_169.jpg

SebarBerita – Korupsi dan dinasti politik menjadi penyakit demokrasi di Indonesia. Indonesia Corruption Watch (ICW) menilai korupsi dan dinasti politik adalah satu paket yang selalu berkaitan

“Jadi dinasti dan korupsi ini saya ibaratkan seperti lingkaran setan. Mana yang duluan muncul, mana dahulu yang diputus rantai lingkaran politik setan ini agak susah karena kita tidak tahu mana dahulu yang muncul, korupsi mengawali dinasti atau dinasti mengawali korupsi,” kata peneliti ICW, Almas Sjafrina saat diskusi di Saung Serpong BSD, Serang, Banten, Senin (13/2/2017).

“Cost (biaya) dinasti sangat besar, termasuk merawat organ-organ pendukunganya misalnya ormas atau segala macam,” imbuhnya.

Dinasti politik, menurut Almas sebagai cerminan dari rekrutmen sebuah partai. Selain itu, kehadiran calon kepala daerah muda dalam pilkada dinilai sebagai produk dinasti politik.

“Banyak sekali politisi-politisi muda kita. Saya melihat ini sebagai produk dinasti.kalau bukannya anak seoramg gubernur tidak mungkin maju. Bukan lompatan positif tapi ada yang gagal dari kita, yaitu kaderisasi partai. Ketika kemampuan politik tapi uang terbatas tidak ada jaringan atau patronase dalam politik atau kekerabatan langsung itu sangat sulit. Yang memudahkan seseorang memudahkan seseorang di politik adlaah uang dan politik kekerabatan,” jelas Almas.

Sedangkan, Direktur Eksekutif Perludem (Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi) Titi Anggraini, menilai politik dinasti berpengaruh terhadap kompetensi pemimpin suatu daerah

“Politik kekerabatan berbasis clan keluarga ini lebih rentan korupsinya. Karena kalau bukan politik kekerabatan keluarga biasanya menjadi calon harus mengikuti fase kompetisi, kemudian menguji kemampuan,” jelas Titi.

“Tapi politik kekerabatan berbasis keluarga ini hadir maka dia hadir dengan mengabaikan kompetensi, mengabaikan kemampuan kepemimpinan, mengabaikan kapasitas untuk mengelola penyelenggaraan pemerintah,” ujar Titi.

Pemilihan kepala daerah diharapkan bisa mencetak pemimpin berkualitas. Direktur Lingkaran Madani (LIMA) Indonesia, Ray Rangkuti menilai demokrasi Indonesia sudah terbangun dengan baik namun masih perlu pembenahan.

Pemilu di Indonesia menjadi tolok ukur keberhasilan negara dengan sistem demokrasi. Ray mengatakan, seharusnya pemilu bisa menjadi filter pemimpin korup.

“Kalau kita punya bangun ada demokrasi bagus setara demokrasi yang cukup mapan di kita etiknya, kulturnya kosong.
Di luar itu kita punya problem pemilu semacam utang fungsi pemilu. Apa itu? Meniadakan kemungkinan calon kepala daerah yang korup,” kata Ray di kesempatan yang sama.

“Kalau pemilu ini bisa kita pergunakan untuk mempersempit koruptor berarti secara substantif kita sudah memfungsikan pemilu membukam dari calon koruptor. Enggak ada lagi persoalan di Indonesia,” imbuhnya.

Menurutnya daerah bisa maju jika berhasil mencetak pemimpin yang tidak korup. Dia menyontohkan kabupaten Purwakarta dan Bantaeng yang dipimpin kepala daerah yang zero corruption.

“Rata-rata APBDnya tidak lebih dari Rp 1 triliun, enggak ada masalah. Bantaeng cuma Rp 800 miliar sebagaimana kita ketahui. Hidup sejahtera warganya. Kalau ada yang sakit warga dijemput ambulans. Itu di Bantaeng yang dulu daerah termiskin, sekarang makmur,” tutur Ray.

“Karena menurut saya di Banteng tidak bisa membangun karena tidak ada duit itu impossible. Yang ada duit enggak dipakai untuk kesejahteraan warga,” imbuhnya.

Selain itu, Ray menuturkan jika dari 101 Pilkada setidaknya bisa mencetak 10 kepala daerah yang jujur maka kesejahteraan sosial bisa tercapai. Sebaliknya, menurut Ray, jika korupsi masih menjadi penyakit maka pembangunan daerah melambat.

“KPK sudah menangkap beberapa kali. Tapi enggak ada efek. Itu seperti pindah tidur saja. Itu seperti pindah dari rumah ke Rutan Salemba. Kalau berdasarkan itu, sepertinya keluarganya happy-happy saja. Problem terbesar bangsa kita adalah kepala daerah kita itu korupsi. Itulah pembangunan tidak tercapai,” pungkas Ray.

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s